Medan, Kolagit itu masih
diproduksi dengan cara yang sama seperti ketika pertama ditemukan, secara
tradisional. Bentuknya serbuk berwarna cokelat gelap. Sedari awal herbal itu
memang didisain untuk berbentuk serbuk.
"Orang yang sakit diabetes, kualitas fungsi organ tubuhnya, termasuk pencernaan cenderung menurun. Kalau berbentuk pil atau kapsul, tubuh harus berupaya mencerna obat itu lagi, dan belum tentu sempurna. Maka dibuat bentuk serbuk dan dilarutkan dalam air, baru diminum, sehingga khasiatnya bisa lebih cepat dirasakan," kata penemu obat tersebut, Gita Adinda Nasution, saat berbincang dengan detikHealth, Kamis (16/1/2014).
Dalam beberapa kasus, ada yang gula darahnya justru naik setelah mengonsumsi Kolagit, tetapi sebentar saja. Setelah beberapa kali minum, biasanya membaik. "Ada juga yang sehabis minum Kolagit, gula darahnya naik, tapi saat bersamaan dia tidak lemas lagi dan kulitnya mengencang, lukanya mulai mengering," kata Gita.
Takaran sekali minum Kolagit adalah satu sendok makan, lantas dilarutkan dalam segelas air. Untuk kondisi pasien yang yang parah, tiga kali minum setiap hari sesudah makan. Jika tidak, maka cukup satu kali sehari. Gita menyarankan sebaiknya semua pengobatan lain dihentikan saat menggunakan Kolagit. Mereka yang tidak mengidap diabetes juga bisa meminum ini, dan tidak ada masalah apa-apa.
Proses pembuatan Kolagit itu adalah bagian dari rahasia yang dijaga kuat oleh Gita. Pada pokoknya dia mengambil unsur dari tebu. Apakah unsur kulit, air, atau sekadar ampas tebunya, Gita tidak ingin membeberkan, apalagi jenis tebu yang mana. Lantas melalui proses pencampuran unsur-unsur senyawa yang lain di dapur farmasinya sendiri, tebu itu berubah menjadi serbuk.
Sekarang ini ada dua lokasi pembuatan obat ini yakni di rumah orang tua Gita di Panyabungan, dan juga di tempat Gita tinggal saat ini di Medan. Tapi berdasar cerita Gita, sepertinya dengan peralatan rumah tangga yang biasa ada di dapur, dia bisa melakukan proses pembuatan jika memang bahan utama tersedia.
"Kalau pasokannya tidak cukup di Panyabungan, saya buat di Medan. Alatnya tidak khusus, biasa saja," katanya.
"Orang yang sakit diabetes, kualitas fungsi organ tubuhnya, termasuk pencernaan cenderung menurun. Kalau berbentuk pil atau kapsul, tubuh harus berupaya mencerna obat itu lagi, dan belum tentu sempurna. Maka dibuat bentuk serbuk dan dilarutkan dalam air, baru diminum, sehingga khasiatnya bisa lebih cepat dirasakan," kata penemu obat tersebut, Gita Adinda Nasution, saat berbincang dengan detikHealth, Kamis (16/1/2014).
Dalam beberapa kasus, ada yang gula darahnya justru naik setelah mengonsumsi Kolagit, tetapi sebentar saja. Setelah beberapa kali minum, biasanya membaik. "Ada juga yang sehabis minum Kolagit, gula darahnya naik, tapi saat bersamaan dia tidak lemas lagi dan kulitnya mengencang, lukanya mulai mengering," kata Gita.
Takaran sekali minum Kolagit adalah satu sendok makan, lantas dilarutkan dalam segelas air. Untuk kondisi pasien yang yang parah, tiga kali minum setiap hari sesudah makan. Jika tidak, maka cukup satu kali sehari. Gita menyarankan sebaiknya semua pengobatan lain dihentikan saat menggunakan Kolagit. Mereka yang tidak mengidap diabetes juga bisa meminum ini, dan tidak ada masalah apa-apa.
Proses pembuatan Kolagit itu adalah bagian dari rahasia yang dijaga kuat oleh Gita. Pada pokoknya dia mengambil unsur dari tebu. Apakah unsur kulit, air, atau sekadar ampas tebunya, Gita tidak ingin membeberkan, apalagi jenis tebu yang mana. Lantas melalui proses pencampuran unsur-unsur senyawa yang lain di dapur farmasinya sendiri, tebu itu berubah menjadi serbuk.
Sekarang ini ada dua lokasi pembuatan obat ini yakni di rumah orang tua Gita di Panyabungan, dan juga di tempat Gita tinggal saat ini di Medan. Tapi berdasar cerita Gita, sepertinya dengan peralatan rumah tangga yang biasa ada di dapur, dia bisa melakukan proses pembuatan jika memang bahan utama tersedia.
"Kalau pasokannya tidak cukup di Panyabungan, saya buat di Medan. Alatnya tidak khusus, biasa saja," katanya.
Medan,
Sejumlah orang sudah merasakan manfaat dari mengonsumsi kolagit, obat yang
diyakini bisa mengatasi diabetes. Gita Adinda Nasution, sang penemu ramuan itu,
saat ini masih dalam proses mematenkan obat tersebut. Sementara, Gita menerima
pemesanan obat diabetes itu melalui akun Facebook-nya.
Menurut Gita, satu kemasan Kolagit dengan berat 800 gram seharga Rp 150 ribu cukup untuk dikonsumsi selama sebulan. Jika habis, maka tidak bisa berharap cepat mendapatkan Kolagit yang baru, sebab pembuatannya terbatas, tergantung pesanan. Apalagi proses pembuatannya juga membutuhkan waktu.
Tentang keuntungan yang didapat dari penjualan Kolagit itu, anak ketiga dari empat bersaudara ini menyatakan tidak tahu pasti. Berapa banyak Kolagit yang telah diproduksinya pun ia tidak tahu pasti, sebab usaha itu sekarang ditangani kedua orang tuanya. Dia membantu menerima pesanan melalui akun Facebook-nya dengan alamat email gitaadinda@yahoo.co.id. Kolagit pesanan kemudian dikirimkan melalui pos.
Apa yang diobati oleh herbal ini, masih butuh penelitian lebih lanjut. Tetapi yang pasti, kata Gita, herbal ini menurunkan gula darah. Selain itu, berdasarkan laporan dari pengguna, penyakit ikutan yang biasanya diderita pengidap diabetes cenderung hilang setelah meminum obat itu, seperti maag, kolesterol, dan darah tinggi.
"Saya tak berani juga bilang Kolagit itu menyembuhkan, melainkan penghambat. Tetapi ada perbaikan pada fungsi pankreas maupun ginjal dan lambung," ucap Gita dalam perbincangan dengan detikHealth, dan ditulis pada Kamis (16/1/2014).
Sebelum menemukan formula Kolagit untuk mengobati diabetes, Gita memang gandrung terhadap obat-obatan herbal. Saat sekolah SMA Negeri 2 Plus Sipirok, salah satu sekolah unggulan di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumut, dia juga kerap dimintai saran untuk obat-obatan. Kompleks sekolah itu berada di dekat hutan alami, sehingga Gita pun gampang menemukan ramuan yang pas.
Kolagit itu, sepertinya sudah sampai pada tahap akhir. Gita tidak lagi melakukan penelitian untuk herbal itu. Fokusnya kini menemukan ramuan herbal baru untuk penyakit tiroid dan paru-paru. "Karena banyak penderita penyakit tiroid ini," kata Gita.
Selain itu, dia juga berbenah dengan rencana pendidikannya. Saat ini dia sudah duduk di semester tiga Analis Farmasi dan Makanan, Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara (USU). Jika tidak ada kendala, maka 2015 dia sudah tamat kuliah. Rencananya dia akan melanjutkan pendidikan farmasi, mengambil ekstensi di USU, dan bukan tidak mungkin merambah ke kedokteran.
Namun begitu, Gita juga gandrung pada bidang astronomi. Saat masih SMA, Gita pernah jadi juara dua olimpiade astronomi tingkat kabupaten, namun saat di tingkat provinsi dia tidak terpilih.
Menurut Gita, satu kemasan Kolagit dengan berat 800 gram seharga Rp 150 ribu cukup untuk dikonsumsi selama sebulan. Jika habis, maka tidak bisa berharap cepat mendapatkan Kolagit yang baru, sebab pembuatannya terbatas, tergantung pesanan. Apalagi proses pembuatannya juga membutuhkan waktu.
Tentang keuntungan yang didapat dari penjualan Kolagit itu, anak ketiga dari empat bersaudara ini menyatakan tidak tahu pasti. Berapa banyak Kolagit yang telah diproduksinya pun ia tidak tahu pasti, sebab usaha itu sekarang ditangani kedua orang tuanya. Dia membantu menerima pesanan melalui akun Facebook-nya dengan alamat email gitaadinda@yahoo.co.id. Kolagit pesanan kemudian dikirimkan melalui pos.
Apa yang diobati oleh herbal ini, masih butuh penelitian lebih lanjut. Tetapi yang pasti, kata Gita, herbal ini menurunkan gula darah. Selain itu, berdasarkan laporan dari pengguna, penyakit ikutan yang biasanya diderita pengidap diabetes cenderung hilang setelah meminum obat itu, seperti maag, kolesterol, dan darah tinggi.
"Saya tak berani juga bilang Kolagit itu menyembuhkan, melainkan penghambat. Tetapi ada perbaikan pada fungsi pankreas maupun ginjal dan lambung," ucap Gita dalam perbincangan dengan detikHealth, dan ditulis pada Kamis (16/1/2014).
Sebelum menemukan formula Kolagit untuk mengobati diabetes, Gita memang gandrung terhadap obat-obatan herbal. Saat sekolah SMA Negeri 2 Plus Sipirok, salah satu sekolah unggulan di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumut, dia juga kerap dimintai saran untuk obat-obatan. Kompleks sekolah itu berada di dekat hutan alami, sehingga Gita pun gampang menemukan ramuan yang pas.
Kolagit itu, sepertinya sudah sampai pada tahap akhir. Gita tidak lagi melakukan penelitian untuk herbal itu. Fokusnya kini menemukan ramuan herbal baru untuk penyakit tiroid dan paru-paru. "Karena banyak penderita penyakit tiroid ini," kata Gita.
Selain itu, dia juga berbenah dengan rencana pendidikannya. Saat ini dia sudah duduk di semester tiga Analis Farmasi dan Makanan, Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara (USU). Jika tidak ada kendala, maka 2015 dia sudah tamat kuliah. Rencananya dia akan melanjutkan pendidikan farmasi, mengambil ekstensi di USU, dan bukan tidak mungkin merambah ke kedokteran.
Namun begitu, Gita juga gandrung pada bidang astronomi. Saat masih SMA, Gita pernah jadi juara dua olimpiade astronomi tingkat kabupaten, namun saat di tingkat provinsi dia tidak terpilih.


obat Diabetes yang bagus memang ace maxs kawan..
BalasHapusdimana alamat belinya di medan mba
BalasHapusminta penjelasan teknis beli online donk... aku nitip email ya....oepil@ymail.com
BalasHapusBisa kasi nomor yg bisa di hubungi mbak
BalasHapusBisa kasi nomor yg bisa di hubungi mbak
BalasHapusBisa kasi nomor yg bisa di hubungi mbak
BalasHapuspemerintah seharusnya beri kemudaha dalam proses patenisasi
BalasHapusini kan aset anak bangsa. oyo jokowi ber buatlah untuk sesuatu kebijakan .
Saya perlu nmr yg bisa saya dihubungi..
BalasHapussaya bisa minta no yang bisa d hubungi
BalasHapussaya ingin beli 3 bungkus bagaimana caranya
BalasHapusCall ???..
BalasHapusTolong info no yg bisadi call
BalasHapus