Selasa, 28 April 2015

Kolagit, Obat Diabetes Mujarab Untuk Sang Ayah



DENGAN dandanan ala kadarnya serta kacamata tebal, gadis 19 tahun tersebut tampak seperti sosok kutu buku. Rok panjang putih yang dipakainya belepotan noda hitam seperti percikan masakan. Itulah penampilan Gita Adinda Nasution saat ditemui di rumahnya, Rabu (22/1).

Siang itu, rupanya Gita sedang mengolah pesanan obat diabetes ramuannya, Kolagit. Obat yang kini menjadi perbincangan banyak orang tersebut ternyata diramu di dapur rumah orang tua Gita di sebuah gang di Jalan Brigjen Katamso, Medan, Sumatera Utara (Sumut). "Ramuan ini sebenarnya sudah lama saya temukan, cuma belakangan baru banyak yang tahu," kata penghobi komik Naruto itu.

Sebelum menjelaskan seputar temuannya tersebut, Gita lebih banyak bercerita tentang masa kecilnya yang memang senang mengamati tanaman. Sampai-sampai itu yang membuat dia sempat dianggap teman seumurannya orang yang kurang waras.

"Saya makin tertarik dengan tanaman saat mulai hobi membaca buku-buku obat herbal," kenang gadis yang banyak menghabiskan masa kecilnya di Kabupaten Mandailing Natal, Sumut, tersebut. Tinggal di sebuah kota kecil yang berstatus pemekaran, Gita cilik tentu dihadapkan pada keterbatasan daerah.

Secara ekonomi, keluarga Gita tidak bisa dikatakan kekurangan. Kedua orang tuanya merupakan PNS di Pemprov Sumut yang kemudian dipindah ke Mandailing Natal karena adanya pemekaran. Ayahnya dipindah karena putra daerah Mandailing Natal. "Jadi, mainan saya ya ke kebun dan perpustakaan saja," kata anak pasangan Bisman Nasution dan Lismawarti itu.

Gita mengaku banyak menghabiskan waktu di pekarangan untuk mencari tumbuh-tumbuhan. Terutama yang berkaitan dengan apa yang  dibacanya di perpustakaan. "Kadang kalau pulang sekolah yang dibawa itu ada saja. Ada jamur, rumput, dan apa saja lah. Setelah itu tumbuh-tumbuhan tersebut dibuat eksperimen," sambung Lismawarti.

Siang itu Lismawarti mendampingi Gita. Sebab, di sela-sela wawancara, ponsel gadis tersebut kerap berbunyi. Sepanjang wawancara, bukan teman Gita yang menghubungi, melainkan orang-orang yang menanyakan dan memesan Kolagit.

Penemuan Kolagit itu sendiri bermula saat Gita sudah tak tega melihat ayahnya yang jatuh sakit karena diabetes. Saat itu Gita masih duduk di kelas VI SD. Diabetes terus menggerogoti tubuh Bisman hingga kadar gulanya mencapai 450. Sampai jalan pun dia sudah tak sanggup.

Saat menceritakan penyakit Bisman itu, Lismawarti bahkan sempat menangis. Dia tak menyangka suaminya yang tidak berdaya saat itu kini sudah pulih. Sarjana hukum asal Universitas Jember tersebut kini dinyatakan negatif dari diabetes. "Awalnya, untuk mengobati ayah, segala obat herbal sudah saya uji cobakan, tapi ya tak ada hasilnya," ungkap mahasiswi Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara (USU) itu.

Obat-obatan herbal yang sudah pernah diramu dan diujicobakan ke ayahnya antara lain berbahan mengkudu, mahkota dewa, hingga daun ciplukan. "Pokoknya ada lah kalau 15 eksperimen," ungkapnya.

Baru sekitar 2008, saat duduk di kelas VIII SMP, Gita punya pemikiran di luar kelaziman. Menurut dia, banyak hal di dunia yang kadang bisa diatasi bahan yang bertolak belakang. Dalam dunia medis, misalnya, menurut Gita, penyakit polio dapat diatasi dengan vaksin yang didapatkan dari penyakit polio sendiri.

Begitu pula penanganan pada orang yang digigit ular, pada pengobatan tradisional malah diberi penawar dari racun ular. "Dari situ saya coba riset olahan tebu yang justru bahan baku utama gula," ungkap gadis kelahiran 2 Juli 1994 itu. Akhirnya, dibuatlah Kolagit dengan bahan dasar tebu yang dicampur beberapa bahan herbal yang racikannya dirahasiakan Gita.

Gita merahasiakan ramuannya itu bukan tanpa alasan. Dia tampaknya trauma penelitiannya dibajak orang. Setidaknya, pengalaman tersebut sempat dia alami. Apalagi, hingga kini Gita masih kesulitan untuk mematenkan obat temuannya itu karena terkendala syarat dan birokrasi yang mbulet. "Dulu banyak kok orang yang saya beri resepnya untuk bikin sendiri. Tapi, mereka kurang bisa meraciknya sehingga akhirnya tetap pesan," ungkapnya.

Gita dan ibunya mengaku tidak semata-mata mengomersialkan temuan tersebut. Obat berbentuk serbuk itu selama ini memang dijual seharga Rp 150 ribu untuk ukuran 800 gram. Namun, harga tersebut tidak paten. Gita mengaku ingin sekali bisa membantu penderita-penderita diabetes, terutama yang tidak mampu. "Saya ingin obat ini bisa bermanfaat untuk semua orang. Sebab, saya telah merasakan bagaimana rasanya punya keluarga yang terkena diabetes. Kalau ada orang yang memang membutuhkan, hubungi saya saja. Saya siap membantu mereka yang tidak mampu, kalau perlu saya gratiskan," tegasnya.

Obat berbentuk serbuk itu dikonsumsi seperti kopi. Serbuk tersebut juga cokelat seperti warna kopi bubuk. Saat ini Gita memang sedang galau akan paten obat itu. Dia bahkan sudah pernah datang sendiri ke Jakarta, salah satunya ke Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI. "Saat ke Jakarta, saya dipingpong. Mungkin karena saya dianggap anak-anak. Karena saat itu saya masih SMA," ujarnya.

Karena itu, Gita mengaku sangat ingin bertemu dengan Menteri BUMN Dahlan Iskan untuk curhat soal karyanya. "Saya melihat di media, Pak Dahlan itu kan begitu care terhadap karya pelajar, termasuk anak-anak SMK," kata gadis yang beberapa kali juara olimpiade astronomi tersebut. Menurut dia, sosok Dahlan merupakan orang kedua yang ingin ditemuinya.

Sebelumnya Gita sangat ingin bertemu dengan orang yang bukunya banyak dibacanya, yakni Prof Hembing Wijayakusuma. Tapi, dia harus memupus dalam-dalam niat itu ketika mendengar berita meninggalnya Hembing. Selain Kolagit, Gita kini mengaku sedang mendalami obat herbal untuk alergi yang sudah diujicobakan ke ibunya.

Gita Adinda Nasution, Penemu Kolagit Obat Diabetes



  

Medan, Kolagit itu masih diproduksi dengan cara yang sama seperti ketika pertama ditemukan, secara tradisional. Bentuknya serbuk berwarna cokelat gelap. Sedari awal herbal itu memang didisain untuk berbentuk serbuk.

"Orang yang sakit diabetes, kualitas fungsi organ tubuhnya, termasuk pencernaan cenderung menurun. Kalau berbentuk pil atau kapsul, tubuh harus berupaya mencerna obat itu lagi, dan belum tentu sempurna. Maka dibuat bentuk serbuk dan dilarutkan dalam air, baru diminum, sehingga khasiatnya bisa lebih cepat dirasakan," kata penemu obat tersebut, Gita Adinda Nasution, saat berbincang dengan detikHealth, Kamis (16/1/2014).

Dalam beberapa kasus, ada yang gula darahnya justru naik setelah mengonsumsi Kolagit, tetapi sebentar saja. Setelah beberapa kali minum, biasanya membaik. "Ada juga yang sehabis minum Kolagit, gula darahnya naik, tapi saat bersamaan dia tidak lemas lagi dan kulitnya mengencang, lukanya mulai mengering," kata Gita.

Takaran sekali minum Kolagit adalah satu sendok makan, lantas dilarutkan dalam segelas air. Untuk kondisi pasien yang yang parah, tiga kali minum setiap hari sesudah makan. Jika tidak, maka cukup satu kali sehari. Gita menyarankan sebaiknya semua pengobatan lain dihentikan saat menggunakan Kolagit. Mereka yang tidak mengidap diabetes juga bisa meminum ini, dan tidak ada masalah apa-apa.

Proses pembuatan Kolagit itu adalah bagian dari rahasia yang dijaga kuat oleh Gita. Pada pokoknya dia mengambil unsur dari tebu. Apakah unsur kulit, air, atau sekadar ampas tebunya, Gita tidak ingin membeberkan, apalagi jenis tebu yang mana. Lantas melalui proses pencampuran unsur-unsur senyawa yang lain di dapur farmasinya sendiri, tebu itu berubah menjadi serbuk.

Sekarang ini ada dua lokasi pembuatan obat ini yakni di rumah orang tua Gita di Panyabungan, dan juga di tempat Gita tinggal saat ini di Medan. Tapi berdasar cerita Gita, sepertinya dengan peralatan rumah tangga yang biasa ada di dapur, dia bisa melakukan proses pembuatan jika memang bahan utama tersedia.

"Kalau pasokannya tidak cukup di Panyabungan, saya buat di Medan. Alatnya tidak khusus, biasa saja," katanya.

Medan, Sejumlah orang sudah merasakan manfaat dari mengonsumsi kolagit, obat yang diyakini bisa mengatasi diabetes. Gita Adinda Nasution, sang penemu ramuan itu, saat ini masih dalam proses mematenkan obat tersebut. Sementara, Gita menerima pemesanan obat diabetes itu melalui akun Facebook-nya.

Menurut Gita, satu kemasan Kolagit dengan berat 800 gram seharga Rp 150 ribu cukup untuk dikonsumsi selama sebulan. Jika habis, maka tidak bisa berharap cepat mendapatkan Kolagit yang baru, sebab pembuatannya terbatas, tergantung pesanan. Apalagi proses pembuatannya juga membutuhkan waktu.

Tentang keuntungan yang didapat dari penjualan Kolagit itu, anak ketiga dari empat bersaudara ini menyatakan tidak tahu pasti. Berapa banyak Kolagit yang telah diproduksinya pun ia tidak tahu pasti, sebab usaha itu sekarang ditangani kedua orang tuanya. Dia membantu menerima pesanan melalui akun Facebook-nya dengan alamat email gitaadinda@yahoo.co.id. Kolagit pesanan kemudian dikirimkan melalui pos.

Apa yang diobati oleh herbal ini, masih butuh penelitian lebih lanjut. Tetapi yang pasti, kata Gita, herbal ini menurunkan gula darah. Selain itu, berdasarkan laporan dari pengguna, penyakit ikutan yang biasanya diderita pengidap diabetes cenderung hilang setelah meminum obat itu, seperti maag, kolesterol, dan darah tinggi.

"Saya tak berani juga bilang Kolagit itu menyembuhkan, melainkan penghambat. Tetapi ada perbaikan pada fungsi pankreas maupun ginjal dan lambung," ucap Gita dalam perbincangan dengan detikHealth, dan ditulis pada Kamis (16/1/2014).

Sebelum menemukan formula Kolagit untuk mengobati diabetes, Gita memang gandrung terhadap obat-obatan herbal. Saat sekolah SMA Negeri 2 Plus Sipirok, salah satu sekolah unggulan di Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumut, dia juga kerap dimintai saran untuk obat-obatan. Kompleks sekolah itu berada di dekat hutan alami, sehingga Gita pun gampang menemukan ramuan yang pas.

Kolagit itu, sepertinya sudah sampai pada tahap akhir. Gita tidak lagi melakukan penelitian untuk herbal itu. Fokusnya kini menemukan ramuan herbal baru untuk penyakit tiroid dan paru-paru. "Karena banyak penderita penyakit tiroid ini," kata Gita.

Selain itu, dia juga berbenah dengan rencana pendidikannya. Saat ini dia sudah duduk di semester tiga Analis Farmasi dan Makanan, Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara (USU). Jika tidak ada kendala, maka 2015 dia sudah tamat kuliah. Rencananya dia akan melanjutkan pendidikan farmasi, mengambil ekstensi di USU, dan bukan tidak mungkin merambah ke kedokteran.

Namun begitu, Gita juga gandrung pada bidang astronomi. Saat masih SMA, Gita pernah jadi juara dua olimpiade astronomi tingkat kabupaten, namun saat di tingkat provinsi dia tidak terpilih.

10 Mitos Tentang Diabetes


Jakarta, Jumlah penderita diabetes di seluruh dunia mencapai 371 juta jiwa. Di Indonesia sendiri total jumlah penderita diabetes adalah 7,3 juta orang. Kendati banyak orang yang terjangkiti diabetes, masih banyak juga mitos yang beredar dan dipercaya masyarakat.

Pada era di mana informasi dapat diperoleh dengan mudahnya seperti saat ini, masih banyak orang yang dengan mudah disesatkan oleh mitos-mitos beredar. Miskonsepsi terutama mengenai diet yang harus dilakukan oleh pasien diabetes.

Untuk membantu Anda mengetahui fakta mengenai diabetes, detikHealth menyajikan 10 hal mitos diabetes yang banyak dipercaya orang. Mitos-mitos ini pada umumnya mengenai diet penderita diabetes, yang salah satunya mengatakan bahwa penderita diabetes harus makan makanan bebas gula.

Tidak hanya gula, para penderita diabetes pun harus mengurangi asupan karbohidrat. Tetapi menghindari bukan berarti harus berhenti mengonsumsi karbohidrat sama sekali, bukan? Sebagaimana orang lain, penderita diabetes juga harus memiliki menu makan seimbang, dan karbohidrat adalah bagian dari menu seimbang itu.

Hal penting yang harus dilakukan penderita diabetes adalah mengatur asupan makanan. Sebaiknya Anda tahu berapa jumlah karbohidrat dalam setiap makanan yang diraup sehingga Anda tidak akan kelebihan asupan.

Dilansir Boldsky dan ditulis pada Kamis (16/1/2014), inilah 10 mitos mengenai diabetes yang seharusnya tidak Anda percaya:

1. Orang obesitas pasti menderita diabetes
Kebanyakan orang percaya bahwa diabetes disebabkan oleh obesitas. Memang, pada penderita obesitas, insulin menjadi tidak peka sehingga memicu diabetes. Namun pada beberapa kasus, ada juga orang dengan berat badan berlebih yang tidak menderita diabetes. Dan sebaliknya, ada orang yang langsing namun ternyata menderita diabetes.
 2. Penderita diabetes harus menghindari buah
Dalam beberapa mitos, dikatakan bahwa penderita diabetes harus menjauhi buah karena buah kaya akan karbohidrat. Hal tersebut tentu merupakan mitos.

Meningkat atau menurunnya kadar gula ditentukan oleh indeks glikemik makanan. Buah memiliki indeks glikemik yang rendah dan oleh karena itu dapat dikonsumsi oleh penderita diabetes. Sebaliknya, nasi putih atau makanan olahan tepung yang tidak terlihat manis justru memiliki indeks glikemik lebih tinggi. Selalu tanyakan pada dokter, buah apa dan berapa jumlah yang harus dikonsumsi agar tetap baik untuk tubuh.

3. Harus berolahraga lebih keras
Satu dari sepuluh mitos mengenai diabetes adalah bahwa penderitanya harus berolahraga lebih keras. Hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Saat olahraga yang dilakukan menjadi anaerobik, level gula darah justru meningkat. Oleh karena itu, pantaulah detak jantung ketika berolahraga.

4. Sebaiknya tidak berolahraga
Ada juga orang yang menganggap bahwa penderita diabetes sebaiknya tidak berolahraga agar tidak pingsan karena kadar gula terlalu rendah. Hal itu juga tidak benar. Penderita diabetes seharusnya tetap berolahraga untuk menjaga kesehatan, menjaga berat ideal, dan mengontrol kadar gula darah. Sebaiknya pilih olahraga yang bersifat aerobik.

5. Selalu mengonsumsi makanan bebas gula
Anda dapat memakan biskuit, roti, dan segala camilan bebas gula. Demikian mitos yang kebanyakan orang percaya. Faktanya, makanan-makanan tersebut bebas gula tetapi tidak bebas karbohidrat.

Karbohidrat dari beberapa jenis makanan justru dapat meningkatkan level gula darah. Oleh karena itu, mengonsumsi makanan bebas gula tapi tidak bebas karbohidrat tetap membuat level gula darah meningkat.

6. Suntikan insulin sangat penting
Adalah mitos bahwa suntikan insulin diperlukan untuk mengontrol diabetes. Suntikan insulin memang diperlukan bagi penderita diabetes tipe 1 yang tubuhnya tidak dapat memproduksi cukup hormon. Tapi tidak dengan penderita diabetes tipe 2.
Penderita diabetes tipe 2 tidak harus diberi suntikan insulin, cukup dengan obat. Bahkan, dengan pengaturan menu makan dan aktivitas yang cukup, penderita diabetes tipe 2 tidak terlalu membutuhkan obat-obatan.

7. Diabetes bukan penyakit serius
Faktanya, diabetes tidak boleh diabaikan atau dianggap enteng. Salah satu informasi yang beredar mengatakan bahwa diabetes bukan penyakit serius dan tidak harus segera ditangani. Padahal jika tidak terdeteksi sejak dini, diabetes dapat membunuh seseorang secara perlahan dari dalam. Penyebabnya adalah karena diabetes memengaruhi sistem pertahanan tubuh, merusak ginjal, dan merusak organ vital lain.

8. Diabetes tipe 2 tidak separah diabetes tipe 1
Banyak orang beranggapan bahwa diabetes tipe 2 tidak seberbahaya diabetes tipe 1. Faktanya, apabila tidak ditangani tepat pada waktunya, kedua tipe diabetes itu dapat mengarah pada komplikasi serius. Meski dua tipe diabetes itu ditangani dengan pengobatan berbeda, wajib hukumnya bagi penderita diabetes untuk melakukan gaya hidup sehat sebagai upaya penanganan.

9. Obat saja cukup
Anggapan yang paling salah adalah bahwa penderita diabetes bisa makan apa saja selama mereka mengonsumsi obat. Meskipun mengonsumsi obat, penerita diabetes tetap harus menyesuaikan menu makan mereka untuk mengontrol diabetes. Selain itu, menjadi ketergantungan pada obat tidak baik untuk hati.

10. Insulin menyebabkan berbagai komplikasi
Beberapa orang yakin bahwa insulin berbahaya untuk tubuh. Padahal faktanya insulin merupakan hormon yang paling aman untuk mengontrol kadar gula darah.

Jual Kolagit Obat Diabetes


Gita  Adinda Nasution Mahasiswi USU Penemu Obat Diabetes Dari Tebu (Kolagit)
 
 Kreatifitas seorang kadang-kadang nampak di waktu yang genting atau menyusahkan. Kondisi ini sama dengan apa yang dihadapi oleh Gita Adinda Nasution (20), saat ayahnya terserang penyakit diabetes.

Mahasiswi semester 6, jurusan farmasi Kampus Sumatera Utara (USU) ini sukses mengobati ayahnya dengan obat racikan yang memiliki kandungan gula. Walau sebenarnya gula kerap disebut-sebut jadi biang dari penyakit diabetes.

Di tulis tribunnews.com " Penyakit polio diobati dengan vaksin polio juga. Didalam penyakit bermakna ada obatnya juga. Saya mencari apa yang paling dijauhi pasien diabetes, yakni gula dalam tumbuhan tebu, 'tutur mahasiswi semester 6 ini dalam acara Wirausaha Muda Mandiri Expo oleh PT. Bank Mandiri, di Jakarta, Jumat (13/3/2015).

Menurut Gita, penyakit diabetes tidaklah dikarenakan oleh mengkonsumsi gula yang terlalu berlebih. Tetapi, kata dia, organ badan yang cacat disebabkan gaya hidup yg tidak sehat, hingga mengakibatkan badan tak dapat mengolah gula, lantas datanglah diabetes.

 " Gula darah naik itu bukanlah lantaran gula, namun organ badan yg tidak dapat mengolah gula itu. Terlebih manusia itu perlu glukosa. Jadi itu lantaran organ badan telah cacat disebabkan konsumsi makanan cepat saji, soda, serta minum alkohol. Sedang potensi dari genetika hanya 20 %, jadi yang paling punya pengaruh yaitu gaya hidup tak sehat, 'imbuh Gita.

Diluar sangkaan, sesudah sukses mengobati ayahnya dari diabetes, obat racikan Gita bermerek Kopi Gula Gita (Kolagit) itu segera tenar di kelompok paling dekat sampai luar negeri. Gita menyampaikan pemesanan telah meraih Arab Saudi.

 " Dari mulai Korea Selatan, Perancis, Singapura, Malaysia, Brunei Darussalam, Arab Saudi, California, Canada, serta AS. Rekan-rekan bapak di Koramil yang umum berobat ke Penang serta Singapura, sesudah minum obat ini tak kesana lagi, pulih dengan Kolagit, " kata Gita.

Obat racikan itu memiliki kandungan bahan tumbuhan tebu serta herbal-herbal yang lain. Walau ada kata kopi dalam nama Kolagit, Gita menyampaikan itu didasari kemiripan warna obat itu dengan kopi.

Untuk harga, Gita jual Kolagit sejumlah 800 gr dengan harga Rp 150. 000. Tetapi, Gita menyampaikan keuntungan tidaklah maksud paling utama dari penjualan Kolagit. Menurutnya, juga sebagai orang medis, masih tetap ada beban moral untuk mengobati orang walau tak dapat untuk beli Kolagit.

 " Sebenarnya, kemauan untuk komersil tak ada, lantaran mempunyai tanggung jawab sosial juga sebagai latar belakang medis. System jual beli saya kerjakan lantaran perlu modal. Jadi yg tidak dapat saya berikanlah harga seikhlasnya atau bahkan juga gratis, 'tutur Gita.

Keinginan yang bertambah lalu bikin Gita memperoleh untung yang banyak. Gita bahkan juga terperanjat saat diakhir th. 2014, ia memperoleh omzet kian lebih Rp 1 miliar.
 " Saya kaget, lantaran tak pikirkan untung lantaran saya hanya pikir bagaimanakah untuk orang dapat sehat. Namun nyatanya alhamdullilah akhir th. lantas, saya serta rekan-rekan mengkalkulasi omzet, meraih kian lebih Rp 1 M, 'imbuh Gita sambil berbisik.

Tawaran dari investor 

Prospek Kolagit yang cerah nyatanya bikin beberapa perusahaan farmasi punya niat untuk menggaet Gita. Ia menyampaikan, perusahaan-perusahaan itu datang dari lokal ataupun luar negeri.

 " Dari 2013 sesudah booming, banyak perusahaan farmasi lokal hingga nasional, datang ke rumah di Medan, hingga entrepreneur property. Paling akhir dari perusahan farmasi dari Turki serta Singapura. Tawarannya miliaran rupiah, " kata Gita.

Tetapi, Gita menyebutkan belum tertarik dengan pilihan hubungan kerja itu. Argumennya, kata dia, walau diberikan laboratorium serta jadi pengawas produksi obat itu, Gita cemas obat itu jadi mahal serta tak dapat menyentuh orang-orang bawah.

 " Saya belum tertarik, lantaran pikirkan bagaimanakah langkahnya menyeimbangkan pada kelompok atas dengan bawah, Umumnya bila telah populer tak mungkin bisa, apa dapat di supermarket tawar-menawar? 'imbuh Gita.

Ke depan, Gita bakal meluncurkan satu product lagi di mana kesempatan ini datang dari limbah organik. Limbah itu bakal dirubah jadi obat, satu diantaranya juga sebagai antiseptik. " Product yang bakal saya ciptakan th. ini datang dari limbah organik, pertama yaitu antiseptik dari, obat penurun panas/demam yang lebih efisien dari paracetamol serta obat anti alergi berbentuk salep, 'jelas Gita.

Juga sebagai info, Gita yaitu juara pertama dalam program Wirausaha Muda Mandiri, kelompok Industri, Perdagangan, serta Layanan oleh PT. Bank Mandiri bekerja bersama dengan Kementerian Koperasi serta UKM.

Memperoleh juara pertama, Gita sukses beroleh hadiah sebesar Rp 50 juta. Ia menyampaikan bakal memakai duit itu beberapa untuk bangun laboratorium serta bekasnya untuk sharing dengan anak-anak dari Sekolah Luar Biasa.